Warisan Terbaik Bukan Harta: Meninggalkan Anak yang Saleh dan Berilmu.
Khutbah Jumat
A
Arham Hasanuddin
8 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى ال...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di awal khutbah yang penuh berkah ini, jiwa ini meratap, hati ini bergetar, merenungi sebuah hakikat yang acapkali kita lalai darinya. Kita terbuai oleh gemerlap dunia, terpesona oleh kilau harta benda, dan terkadang, melupakan warisan yang sesungguhnya, warisan yang nilainya tak ternilai, yang akan terus mengalir bahkan setelah napas terakhir kita terlepas dari raga.
Duhai, betapa sering kita berjuang keras, mengerahkan segala daya dan upaya, hanya demi mengumpulkan seonggok kekayaan yang kelak akan dibagi-bagi, dihabiskan oleh orang-orang yang mungkin tak kita kenal. Kita sibuk membangun istana dari bata dan semen, sementara di sisi lain, kita lupa membangun benteng kokoh dalam relung jiwa anak-anak kita. Kita sibuk mengumpulkan aset di bank, sementara amal jariyah mulai menipis dari catatan perbuatan kita.
Bukankah kita diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seorang ayah takkan bisa mewariskan sesuatu yang lebih baik bagi anaknya daripada kebaikan. Dan kebaikan yang paling hakiki, yang paling abadi, adalah meninggalkan seorang anak yang saleh dan berilmu.
Betapa sedihnya hati ini, tatkala melihat banyak orang tua yang rela mengorbankan segalanya demi pendidikan duniawi anak-anak mereka, sementara pendidikan agama, pembentukan akhlak mulia, luput dari perhatian. Mereka bangga jika anaknya menjadi insinyur, dokter, atau pengusaha sukses, namun menangis pilu jika mendengar anaknya jauh dari rahmat Allah, tak mengerti bacaan Al-Qur'an, dan tak mengenal tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ingatlah, Ma'asyiral Muslimin, firman Allah Ta'ala dalam surah Al-Kahfi ayat 46:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
"Harta benda dan anak keturunan adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan."
Ayat ini seolah berkata kepada kita, "Wahai hamba-Ku, lihatlah, dunia ini fana. Kebanggaanmu akan harta dan anak keturunan hanyalah sekadar hiasan sementara. Namun, amal saleh, yang lahir dari jiwa yang terdidik dan berilmu, itulah yang akan abadi, itulah yang akan menjadi bekalmu di hari perhitungan kelak."
Pernahkah kita merenungi, ketika kelak kita terbaring di liang lahat, harta benda yang kita kumpulkan akan menjadi saksi bisu atau bahkan menjadi bukti kelalaian kita. Namun, seorang anak yang saleh, yang senantiasa mendoakan kita, yang senantiasa meneruskan risalah kebaikan, ia adalah investasi terbaik kita, ia adalah cahaya yang terus menerangi alam kubur kita.
Ia akan mengangkat derajat kita di sisi Allah. Ia akan mendoakan ampunan untuk dosa-dosa kita. Ia akan menjadi jembatan bagi kita untuk meraih surga-Nya, dengan izin Allah.
Betapa meruginya kita, jika kita lebih mementingkan warisan berupa materi daripada warisan berupa ruhani. Betapa celakanya kita, jika kita meninggalkan anak-anak kita tanpa bekal keimanan, tanpa ilmu agama, mereka adalah umat yang rentan tersesat, mudah terjerumus dalam jurang kenistaan, dan kelak, kita pun ikut terseret dalam kesedihan yang tiada tara.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."
Lihatlah, betapa agungnya kedudukan anak saleh itu. Ia adalah perpanjangan amal kita, ia adalah gema kebaikan kita, ia adalah permata yang terus bersinar di kegelapan dunia dan akhirat.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Janganlah kita menjadi generasi yang menyesal di kemudian hari. Jangan biarkan anak-anak kita mewarisi kekayaan tanpa dibekali ketakwaan. Jangan biarkan mereka menjadi hamba dunia tanpa kesadaran akhirat.
Marilah kita renungkan kembali. Bagaimanakah peranan kita sebagai orang tua? Sudahkah kita benar-benar menanamkan nilai-nilai keislaman dalam diri mereka? Sudahkah kita menjadi teladan yang baik dalam perkataan dan perbuatan? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendidik akal dan jiwa mereka, bukan sekadar memanjakan fisik mereka?
Jika hati kita terenyuh, jika air mata ini menetes tanpa kita sadari, itu adalah tanda bahwa Allah Ta'ala masih membukakan pintu rahmat-Nya, masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, untuk berbenah, sebelum terlambat.
Bertaqwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Dan persiapkanlah warisan terbaik bagi anak-anak kita. Warisan yang akan mereka kenang, warisan yang akan menjadi bekal mereka, warisan yang akan mengangkat derajat kita. Warisan berupa anak-anak yang saleh dan berilmu.
bārakallāhu lī wa lakum fil qur’āni al-‘aẓīmi, wa nafa‘anī wa iyyākum bi mā fīhi minal āyāti wadh-dhikri al-ḥakīmi. Aqūlu qawlī hādhā wa astaghfirullāha al-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril muslimīna wal-muslimāti fastaghfirūhu innahu huwal-ghafūrur-raḥīmu.